Kehidupan Baru Saja Dimulai
Hari-hari
yang sangat menyakitkan untukku sudah berakhir.. Yaa aku harap begitu. Besok
adalah penerimaan murid baru di SMA S. Perkenalkan. Aku Laila 12, 5 tahun .
Usiaku belum genap 13 tahun, tapi aku sudah masuk SMA. Mungkin ini anugerah
dari tuhan yang ia berikan kepadaku.
Tapi
karena usiaku yang terlalu muda dari teman-temanku. Teman-teman SMP ku sering
menindasku. Mereka menganggap remeh diri ku. Tapi hanya ada satu orang yang
tidak menganggap remeh diriku yaitu, dia. Namanya Hamsa dia 2 tahun lebih tua
dariku..
Dia
teman sekelasku saat aku SMP. Karnanya aku yang pemalu, tidak percaya diri, dan
pelupa ini di pilih oleh guru untuk ikut Lomba Cerdas Cermat Tingkat Provinsi.
Dia yang merekomendasikanku untuk ikut lomba ini. Aku senang, tapi aku bingung.
Kenapa dia pilih aku? Aku sempat menolak untuk tidak mengikuti lomba itu.
Karena masih banyak murid yang lebih percaya diri daripada aku.
Tapi
dia menyakinkanku “kamu bisa, ayo kita berusaha bersama,”
Tapi
aku bilang “aku tak mungkin bisa.”
Lalu
dia bilang “kamu ini pintar laila. Kamu hanya kurang percaya diri karena kamu
selalu saja di tindas dan diremehkan oleh mereka yang iri kepadamu. Dan aku
juga tdak akan ikut kalau kamu tidak ikut.”
“Iri?
Tidak ikut? Kenapa?” tanyaku.
“iya,
mereka iri kepadamu. Dengan usiamu yang masih muda, kamu bisa mengimbangi
mereka. Iya. Aku tidak akan iku lomba itu karena aku terlalu sering ikut lomba
yang seperti itu. Aku tidak ikutpu sekolah tidak rugi. Toh, piala ku sudah
terpampang banyak sekali di kantor kepala sekolah. Sedangkan kamu? Kamu punya
potensi yang besar laila.” Jawabnya.
Dengan
kata-kataya itu, dia membangkitkan semangat, motivasi, dan kepercayaan diriku.
Aku sudah bertekad untuk membuktika kepada mereka bahwa aku bisa.
Pertama
kalinya ada orang yang peduli dan memperhatikanku. Selama tiga tahun aku
melewati masa-masa SMP ku dialah orang pertama yang mau menjadi temanku.
Akhirnya
aku mau ikut loma itu. Dia sangat senang sekali. Dia selalu menemaniku belajar.
Setiap pulang sekolah dia selalu ke rumahku untuk belajar bersama. Aku selalu
merasa ingin di dekatnya. Kami Pulang pergi bersama, makan bersama,
samai-sampai dia pindah tempat duduk karena aku duduk sendiri.
Hari
lomba pun sudah dekat. Akhirnya aku bisa, dan percaya diri bahwa aku akan
menang. Ini semua karena dia. Selama kebersamaan kami itu, aku baru sadar bahwa
aku jatuh cinta kepadanya. Aku berniat akan menyatakan perasaanku setelah aku
menang lomba itu.
Tapi.
Sebelum lomba itu dimulai dia membawa ku ke belakang gedung. Dia bilang “maaf”.
Aku
bingung! Apa maksud dari kata-katanya tersebut? Padahal aku belum mengatakan
apa-apa. Setelah mengatakan itu. Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa
lagi.
Ku
kejar dia, ku pegang tangannya, dan kulihat wajahnya. Tetesan air mata indahnya menetes di tanganku.
Ku husap air matanya, tapi ia menepis tangan ku.
Dia
bilang “TERIMA KASIH, AKU BISA SENDIRI!” dengan nada tinggi. Dia membentakku.
Sebelumnya dia belum pernah begitu kepadaku. “mengapa kamu berkata seperti
itu?” tanyaku.
(Teenngg,
Teenngg, Teenngg) Bel sudah berbunyi. Ternyata lomba sudah di mulai. Padahal
aku belum sempat mendengar alasannya.
Karena
dia bilang seperti itu, pelajaran yang aku pelajari sudah hilang entah kemana,
hanya ada dia di pikiranku.
Akhirnya aku kalah dan dia menang. Dan niatku
untuk menyatakan perasaanku padanya, sirnahlah sudah. Padahal kita belajar
bersama. Tapi hasilnya malah sangat berbeda. Hanya karena masalah seperti itu
aku langsung lupa apa yang aku pelajari.
Kalau
aku menyatakan perasaanku sekarang, aku merasa tidak pantas mengatakanya karena
aku tidak memenangkan lomba itu. Aku merasa bahwa, aku tidak pantas untuknya.
Dan lombanya usai begitu saja.
Tapi
saat dirumah, aku membulatkan tekatku lagi “aku akan menyatakan perasaanku saat
pulang sekolah.”
Ternyata
saat di sekolah. Wali kelas datang dan langsung berkata “Anak-anak sekalian.
Teman kalian, Hamsa. Dia sudah keluar dari sekolah, orang tuanya bercerai. Dia
ikut ke Sumatera bersama ayahnya”. saat mendengar guru berkata seperti itu air
mataku menetes, dan sudah tak ada yang bisa menghapusnya, karena yang bisa
menghapus airmataku hanya dia.
Akhirnya aku kembali ke kehidupan
ku yang suram. Tanpanya aku tak bisa berbuat apa-apa saat mereka menindasku. Tak
ada yang membelaku, yang bisa kulakukan hanya pasarah. Aku mau melawan, tapi
taka da yang bisa k lakukan.
Ya… Hidupku di SMP yang gelap dan suram akan
berakhir besok. Selamat tinggal kegelapan selamat tinggal kenangan dan selamat
tinggal cinta yang tak terbalas.
Hari
ini aku resmi menjadi siswi SMA S. Semoga aku bisa menyesuaikan diri dengan
orang-oran disini. Dan yang pasti aku tak mau kehidupanku di SMP terulang lagi.
Aku ingin punya banyak teman. Tapi, walaupun aku hanya punya satu teman, ku
harap dia aka seperti Hamsa. Hamsa adalah satu-satunya temanku. Temanku yang
sangat aku cintai.
Sejak
saat itu, aku tak penah bisa melupakannya. Padahal aku tau bahwa aku tak akan
penah bisa bertemu lagi dengannya.
Upacara
pun dimulai. Banyak sekali siswa dan siswi yang berkumpul di aula. Ini sangat
menyesakkan. Aku sangat ingin meyambut kehidupanku yang baru. Tapi aku takut
kehilangan kenangan indahku bersamanya. Dan aku memutuskan untuk tidak ikut
upacara penerimaa murid baru.
Aku
berpikir bahwa, aku tidak boleh terus seperti ini. Aku harus melupakannya. Aku
lari mengelilingi gedung sekolah. Dan aku bertemu dengan penjaga sekolah. Dia
mencoba untuk enghentikan langkahku. Tapi sayangnya dia tidak behasil. Karena
aku sudah membulatkan tekad ku. AKU HARUS MELUPAKANYA!!
Akhirnya
aku sampai di atap sekolah. Sekolah ini memang luas sekali. Aku teriak pun
mungkin tidak ada yang bisa dengarnya.
Disitu
dengan puasnya aku berteriak dan bekata “HAMSAAA.. AKU MENCINTAIMU.. AKU INGIN
MELUPAKA MU. TAPI KENAPA KAMU SELALU ADA DIPIKIRANKU. HUJAN, BADAI, ANGIN
TOPAN, KULEWATKAN SENDIRI TANPAMU… KENAPA KAU MENINGGALKA KU TANPA ADA SEPATAH
KATA YANG TERUCAP DARI BIBIRMU.. HHHHHUUUUUAAAAA!!!!!!!!”
Aku
sangat lelah, tapi aku puas. Air mataku mengalir deras. Aku yakin sekali aku
bisa melupakannya.
“Kenapa
kamu begitu inginnya melupakanku?” suara lembut yang semakin mendekatiku.
“Selama
ini aku tak pernah berpikir bahwa aku akan melupakanmu.” Suara ini sangat tidak
asing untukku.
“Aku
selalu ingin kembali dan cepat-cepat menjemputmu.” Semakin dekat.
Tiba-tiba
orang itu memelukku dan menghentikan derasnya air mataku. Pelukanya membuatku
sangat nyaman. Aku sangat kenal dengan suara lembut itu.
“Maafkan
aku. Karenaku kamu telah banyak mengeluarka air matamu. Akan ku ganti setiap
tetes air matamu dengan kasih saying sang melimpah. Aku cinta kamu, Laila..”
Aku
menolehkan wajahku ke hdapannya. Ya, ternyata memang dia. Orang yang sangat
ingin aku lupakan ternyata kembali dihidupku. Senang, sedih, kesal, kecewa,
mereka semua sedang menari-nari dihatiku.
“Hamsa, kamu jahat!! Kamu pergi begitu saja
tanpa pamit.AKU BENCI KAMU!!” sambil menangis.
“Maaf,
aku pergi tanpa pamit, datang pun aku tak bilag-bilang. Iya laia, aku juga
sangat mencintaimu.” sahutnya.
“siapa
yang cinta kamu? Aku bilang kan AKU BENCI KAMU”.
“Iya
aku tau, kalau kau sangat mencintaiku.”
“Kamu
ini!!!!!” dngan nada tinggi.
Ku
ayunkan tanganku beriat untuk memukulnya. Tapi dia menghentkannya. Dia
menyandarkanku ke dadanya. Hangat, dan nyaman. Itulah yang aku rasakan.
“Maaf
kan aku.” Bisiknya.
Dan
ternyata, disaat yang romantis seperti itu. Penjaga sekolah datang ke atap. Dia
menemunku. Dia merusak suasana dengan memarahi kami Kami dimarahi habis
habisan.
Saat
turun ke bawah. Penjaga sekolah di depan dan kami mengikutinya. Tapi Hamsa tak
melepaskan tanganku. Genggamannya sangat kuat, tangannya ternyata besar.
Terlihat sekali perbedaa diantara kami. Dia laki-laki dan aku perempuan. Dan
yang paling mengesankan adalah, ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.
Setelah
di marahi. Kami langsung melihat ke mading pengumuman. Ternyata, kami sekelas
lagi. Dia tersenyum, senyumnya membuat hatiku terasa direbus (Nysss).
Kami
langsung bergegas ke kelas. Kami tidak duduk bersebelahan. Mudah mudahan
dikelas ini aku mendapatkan banyak teman.
Saat
namaku di panggil aku merasa kehidupan di SMP ku akan terulang kembali. Karena,
saat namaku di panggil semua mata tertuju kepadaku. Tapi firasatku salah,
teman-teman yang lain malah memujiku, mereka bilang namaku indah. Dan aku keren
dengan usiaku yang semuda ini aku bisa duduk di kelas yang sama dengan mereka.
Jelas sekali ini sangat berbeda dengan kehidupan ku di SMP.
Aku
duduk dan langsung berkenanalan dengan teman sebelahku. Dan sekarang aku baru
punya 4 teman. Orang yang duduk di depanku namanya Nara, dia memakai kacamata,
sepertnya dia orang yang misterius. Di sebelah kiriku namanya Lisa, dia bilang,
“kamu mau jadi sahabatku? Aku akan selalu ada untukmu” tentunya aku mau
selkali. Disebelah kananku namanya Jason, ternyata dia itu teman SMP ku,
tepatnya temannya Hamsa. Di belakangku namanya
Afril, dia pendiam dan pemalu, saat melihat dia aku seperti melihat
diriku yang dulu.
Nahh.. Dari sinilah, kehidupan SMA ku dimulai..
Hari
ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Sekolah dimana aku akan mengubah
hidupku dari kegelapan menjadi cahaya. Cahaya yang bukan hanya untukku, tapi
cahaya untuk orang-orang yang menyayangi ku.
Aku
sedang siap-siap untuk berangkat sekolah. Aku tak tau harus bergaya seperti
apa. Apa aku harus pakai rok pendek di atas dengkul? Atau pas di dengkul? Atau
pakai rok yang panjang? Ahh lebih baik aku pakai yang panjang saja, agar
kesannya lebih baik dimata orang.
Wahh
ternyata Hamsa menungguku di depan rumah, ini seperti pemandangan yang indah. Dia
sedang duduk di bangku depan rumah ku.
Seperti saat dia menungguku saat SMP dulu.
Aku
bilang “wahh.. sudah lama sekali aku tak melihat pemandangan seindah ini.” Dia tertawa dan bilang “ada-ada
saja!!” sambil mengusap kepalaku.
Aku
bertanya kepada diriku sendiri “Oh tidak, kenapa dia sangat baik kepadaku? Aku
takut kejadian waktu SMP dulu terulang lagi. Kalau memeng dia tidak menyukaiku
dan menganggapku biasa-biasa saja. Sebaiknya dia jangan berbuat bai kepadaku.”
Tuh
kan, lagi-lagi Hamsa menggenggam tanganku. Aku takut aku salah paham. Ditengah
jalan yang sepi dia terus menggandengku. Ku akui memang tangannya sangat
hangat. Tapi aku tidak suka dengan perasaan yang selalu mengusikku.
“Hamsa,
memangnya kita sudah pacaran?” tanyaku.
Dia
malah tertawa terbahak-bahak.”HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!”
“Aku
bingung, memangnya ada yang lucu, ya?” sambil mengusap-usap kepala.
Dia
berhenti tertawa “iya kita sudah pacaran.”
Tapi
aku malah tambah bingung “memangnya kamu pernah memintaku untuk menjadi
pacarmu?” tiba-tiba dia berhenti berjalan.
Dia
bertanya “memangnya kalau pacaran harus diminta dulu ya?” sambil tertawa.
“tentu
saja, kan itu sebagai kepastian suatu hubungan” jawabku.
Dia
berhenti tertawa, lalu dia malah meninggalkanku sendirian.
“YASUDAH KALAU BEGITU AKU BERANGKAT SEKOLAH
SENDIRI!!!” teriakku.
Aku
sangat kesal, dia malah mempermainkan aku. Aku menendang apa saja yang ada di
depanku. “AUU sakit Laila” dia datang entah dari mana.
”untuk
apa kamu disini? Tadi kamu malah meninnggalkannku sendirian! huh” dengan wajah
suram.
Sambil
tersenyum dengan pakaian yang berantakan dia mengenggam ke dua tanganku dan
berkata “Maafkan aku, sebagai gantinya terimalah bunga ini, dan jadilah
pacarku”. Aku senang luar biasa. Dia samapai melewati semak-semak dan lumpur
untuk mengambil bunga itu. Tentu saja aku langsung menerima permintaannya. Dan
disitulah aku mendapatkan ciuman pertamaku.
Saat
aku melihat jam, ternyata kami terlambat. Kami tak diizinkan masuk oleh penjaga
sekolah. Dengan tongkat dan tidak ketinggalan kepala botaknya itu, dia bilang
“KALIAN LAGI!!!?, HUH! Dasar anak muda”.
Bukannya
takut, kami malah tertawa terbahak-bahak. Sang penjaga sekolah pun tambah
marah. “DIAM!!!!” teriaknya .. “UPPSS!! ^_^, maaf pak, hehe” berbisik kecil.
Ini
adalah hari pertama aku dan dia menjalani hidup sebagai sepasang kekasih. Masa
mau dirusak terus sama si Kepala Botak sih?
Kami
tak tahan lagi dengan omelan si Kepala Botak itu. Akhirnya kami berhasil
melarikan diri darinya. Kami kabur lewat semak-semak di belakang pos penjaga.
Sesampainya di kelas, kami malah
di tertawakan. Ternyata wajah kami penuh lumpur dan seragam kami pun kotor. Huh..
Walaupun malu, tapi hari ini adalah hari yang paling menyenangkan yang pernah
aku alami.
Pelajaran
pun dimulai. Lisa dan aku diminta oleh guru untuk mengambil bahan pelajaran
diruang guru. Tapi disana aku melihat Nara sedang dimarahi. Apa yang sedang
terjadi? Aku khawatir. Jadi aku menunggunya. Aku meminta Lisa untuk pergi
duluan ke kelas. Aku memintanya untuk bilanng ke guru kalau aku ke toilet dulu.
Aku
menunggu Nara di depan pintu ruang guru. Nara keluar, dan aku ingin tau apa
yang terjadi.
“Nara,
apa yang telah terjadi?” tanyaku.
“Oh,
Laila. Ku kira siapa. Tidak ada yang terjadi. Apa yang sedang kamu lakukan di
sini?” jawabnya.
Oh
iya, aduh apa yang harus ku katakan padanya? Masa, aku bilang aku khawatir si?
Padahal kita baru kenal. Nanti aku malah di bilang sok akrab dan KEPO( mau tau
aja: bahasa gaul) lagi. Ah, yasudah
lah memang aku khawatir.
“Laila
mengapa kamu diam saja? Apa yang kamu laku kan di sini?” tanyanya dengan
tatapan curiga.
”Oh
itu, Mmm aku sedaang…. Mengantar Lisa ke toilet” jawabku.
Aku
malah berbohong padanya padahal kami baru kenal. Duh bodohnya aku.
“Lisa?
Ngomong-ngomong dimana dia? Aku tak melihatnya. Oh iya.. Toilet? Ini kan ruang
guru.” tanyanya.
Dengan
pertanyaannya yang seperti itu, dia memojokkanku. Yasudah lah, aku sudah
terpojok, lebih baik aku bilng yang sejujurnya.
“Aku khawatir padamu, tadi kulihat kau
dimarahi oleh guru, dan maaf aku tadi berbohong.”
Kupejamkan
mataku. Dan kubuka satu mataku sambil menunggu jawabanya.
“Hah?
Siapa yang dimarahi? Tadi aku hanya berdiskusi sedikit dengan guru. Sok tau
sekali kamu! Padahal kita baru kenal, dan kamu juga berbohong padaku. Memangnya
untuk apa kau khawatir. Dasar sok kenal!”
Dia
berkata seperti itu dengan wajah yang datar. Benar sekali pikiranku tadi. Aku
pasti dibilang sok akrab.
Aaarrgghh..Apa
yang sedanng kulakukan? Huh!! Ternyata dia orangnya dingin sekali. Padahal aku
kan hanya khawatir. Hmm wajahnya, apa lagi kaca matanya itu, ngajakin berantem
banget. “yaudah si. Biasa aja, kamu juga baru kenal tapi kok kasar banget? Padahal
aku kan cuma khawatir. Maaf ya kalu aku sok kenal. Ck.!!”
Setelah
mengatakan itu aku langsung lari ke kelas. Aku kesal sekali, SUPER DUPER KESAL.
“Heii kamu! jangan berlari di koridor” teriak si Kepala Botak.”
“maaf
Pak..” jawabku.
Sampainya
dikelas aku langsung duduk.
“Lai,
kenapa wajahmu? Lecek amat.” Tegur Lisa
“Aah..
Tak apa.” jawabku.
Akhirnya
Nara datang. Dia dimarahi guru karna telat masuk kelas. Dia duduk di bangkunya.
Dan lagi-lgi wajahnya datar. Kaca matanya itu yang sangat membuatku kesal.
“Sok
kalem, padahal tengil gitu.!!” Kataku dengan suara pelan.
Tiba-tiba
dia menengok kebelakang.
“Apa
katamu?” katanya sambil menurunkan kacamatanya.
“Nggak
kenapa-kenapa. Lagian siapa yang ngomong sama kamu?” jawabku sambil menutup
wajahku dengan buku.
“OH”
katanya, lalu dia memakai kaca matanya lagi.
Idiihh
sok banget keren.!! Aku sudah bicara panjang lebar (yaaa.. nggak panjang-panjang
juga) dia cuma bilang “OH”.. Iich ngeselin banget tuh anak.
“Teng,
Teng,Teng,Teng… ”suara bel. Akhirnya istirahat.
“huh
dimana si kacamata itu?” sambil tengok ke
sekitarku. Aku membawakan bekal untuk Hamsa. Kami makan bersama di atap
sekolah. Kami makan, ngobrol, dan tertawa.
Lalu
tiba-iba ada suara (Ngh) “Hamsa.. suara
apa itu?” tanyaku, sambil besembunyi di belakang punggungnya “Aku tidak tau”
jawabnya. lalu kami mencari sumber suara tersebut. Ternyata ada orang yang
sedang tidur.
“HAH?
Ternyata kamu.. woy Nara bangun!” teriakku sambil membangunkannya.
“Ngh”
desahnya.
Ada
apa ini? Hatiku..
“Heii
apa-apaan desahanmu itu? Menjijikan sekali!” kataku sambil memegang dada.
”Apaan
si? Berisik banget!! Nggak liat orang lagi tidur ya?” katanya sambil membuka
kacamatanya. Lalu dia mengusap matanya.
“Huh,
apa-apaan ini, hati ku berdebar” (suara hati).
Lalu
ku lihat wajah Hamsa. Wajahnya ceberut
lalu dia bilang “Kalian berdua arab sekali ya? Aku seperti pengganggu disini.”
“Hamsa,
Hamsa..” panggilku.
Apa
apaan situasi ini? Hamsa melihatku dengan wajah cemberut, Nara melihatku dengan
wajah yang bingung. Aku tak pernah berada di situasi seperti ini. Ini aneh
sekali. Lalu Hamsa pergi..
“Aduh..
gimana nih? Ini semua gara-gara kamu, Kacamata JELEK !” tuduhku sebagai pelarian.
“Apaan
sih? Bego!!” Dia mencelaku sambil memakai kacamata.
“Hah?
Bego? Kamu tuh yang bego. Kacamata di lepas, dipakai, dilepas, dipakai. Ck!.”
kubalas celaannya.
”
Bodo ah! Terserah kamu aja, aku tidur lagi” jawabnya, lalu dia tidur lagi.
Tak
peduli dengan anak yang satu itu. Ku kejar Hamsa. Tapi aku tidak menemukan dia. Aku malah
bertemu si Kepala Botak lagi. Dia marahiku lagi.
“Berisik!!..
Sudahh lah pak, bukan sekarang saatnya. Bapak mengganggu saja.” Bentakku.
Dia
malah tambah marah. Aku di kejar sampai belakang gedug sekolah. Akhirnya aku
bisa sembunyi dari si pengganggu itu.
Ternyata
Hamsa ada di belakang sekolah. Aku beruntung sekali karena dikejar si Kepala
Botak itu tanpa sengaa aku menemukannya. Tapi.. Apa yang sedang dia lakukan?
Dia sedang bersama siapa? Siapa itu? Lisa? Apa ang sedang mereka lakukan? Mengapa
mereka hanya berdua? Dan mengapa tadi Hamsa pergi? Ada apa ini? Mengapa dadaku
sakit sekali? Tidak, tidak.. aku harus percaya pada Hamsa. Aku juga harus
percaya pada Lisa, karna dia adalah sahabatku. Yaa benar, aku harus percaya..
(Tes . . Tes . .Tes .
.) mengapa aku tidak bisa menahan air mataku?
“Teng,
teng, teng” bel masuk. Saat aku masuk kelas, aku sudah melupakan apa yang tadi
aku rasakan pada Nara. Dan sekarang, aku akan memastian apa yang terjadi antara
Hamsa dan Lisa.
“Lisaaa..?”
paggilku.
“Ya?”
jawabnya.
“Ah
tidak apa-apa”. Aku tidak tau apa yang harus aku tanyakan adanya. Aku takut dia
marah. Ya, aku akan coba tanya pada Hamsa.
“Teng,teng,teng”
bel pulang. Kurasa Hamsa tidak menungguku. Yahh, hujan deras. Aku tak bawa
payung. Aku jadi teringat kejadian tadi siang.
Aku
menangis. Aku jalan menyusuri jalanan yang basah. Dan udara yang dingin hingga
aku tak bisa bernafas. Air mata, air hujan, aku sudah tak bisa membedakannya.
Mereka menetes di pipiku.
Aku
tak sanggup lagi untuk berjalan. Aku duduk di pinggir jalan sambil berkata “Aku
tak mau kehilangannya, aku tak mau melepaskannnya, aku tak akan membiarkannya
pergi lagi, tapi aku tak tau bagaimana caranya… Hamsa aku sayang kamu. Aku tak
mau kita berakhir sampai disini, jangan tinggalkan aku.”
Tiba-
tiba hujan berhenti. Ah tidak bukan hujang yang berhenti tapii…
“siapa
yang akan meninggalkanmu? Aku sudah janji kepadamu aku tak akan meninggalkanmu
sendirian apapun yang terjadi” katanya.
Ternyata
ini Hamsa.
“kenapa
kamu tidak menungguku?”tanyaku
“tadi
aku menunggumu di dekat penitipan barang, tapi kamu malah lewat depan dan
pulang duluan. Kamu kan nggak bawa payung. Aku khawatir nanti kamu sakit. Jadi
aku menyusulmu. Dan ternyata kamu sudah basah kuyup seperti ini. Daann, maaf
tadi aku meninggalkanmu di atap, karna aku tak tahan melihat kamu dan Nara
akrab sekali. Maafkan aku.” jelasnya.
“Ya.”
Aku tak tau apa yang harus aku katakan.
Aku
senang, sedih, sekaligus kecewa dengan diriku sendiri. Mengapa aku tidak
percaya pada Hamsa? Padahal dia baik sekali padaku.
“Oh
iya, tadi kamu bilang kamu tak tahan melihatku dengan Nara? Kamu cemburu ya..? ”
tanyaku sambil menoel-noel tanganya.
Dengan
wajah yang merah padam dia bilang “Tidak, sapa yang cemburu?”
“ahh,
sudah lah jangan Ja Im gitu, aku tau kamu
cemburu” kataku. Dia terus mengelak dan bilang “Tidak!” aku pun terus berusaha
agar dia mengaku.
Akhirnnya
dia menyerah. Dan berkata “Iya, aku cemburu. Uchh. ini memalukan sekali” sambil
menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aduh. imut sekali aku tak tahan
melihatnya. Kubuka kedua tangannya lalu ku bilang “BAAA…? Hehe.” Dia tersenyum,
dan seperti biasa senyumannya itu membuatku meleleh.
Hujan
pun berhenti. Dia mengantarku sampai depan rumah. Padahal rumah kami arahnya
berlawanan. Hari ini aku senang sekali. Saat aku akan tidur aku baru teringat
bahwa masih ada satu masalah yang masih terganjal di dalam hati ku. Hamsa dan Lisa.
Ya, aku lupa tentang masalah yang satu ini. Keapa aku tidak tanya tadi? Dasar pikun.
Tapi, keesokan harinya aku masih belum berani
untuk memastikanya.
Satu
minggu pun berlalu sejak kejadian itu.
Hamsa
tak pernah menjeputku lagi. Padahal sebelumnya aku dan dia kan sudah baikan.
Akhirnya aku berangkat sekolah sendiri. Sesampainya aku di stasiun, aku seperti
melihat Hamsa. Dia bersama cewek lain lagi. Itu bukan Lisa.. Siapa ya?
Aku
sudah tiba di sekolah, aku masuk kelas, dan seperti biasa Hamsa menegurku.
Seperti tak ada yang terjadi. Aku ingin bertanya, tapi aku takut, aku takut dia
berbohong padaku, dan walaupun dia jujur, aku takut menerima kenyataan.
Aku
ingin berbagi beban pada seseorang, biasanya aku cerita kepada Lisa. Yup aku
akan cerita kepadanya.
“Liss..
aku mau curhat. Boleh nggak?”
“Cerita
tentang apa?” sahutnya.
“Begini,
sudah 1 minggu ini Hamsa tidak menjemput ku, kami pun jarang berbicara, apa
lagi aku sering melihat dia bersama cewek lain” kataku.
Upps,
aku lupa kalau ini semua juga ada hubungannya dengan Lisa. Aduh Pikun banget
deh L.
“hah?
Dia bersama cewek lain? Benarkah?” tegasnya.
“ah,
iya !” jawabku sambill mengusap kepala. Walau pun aku agak sedikit bingung,
tapi sepertinya dia memang baik. Aku harus percaya padanya.
“oh,
kasian sekali sahabatku ini, yang sabar ya.. L”
katanya.
“Hah?
Sahabat? Saat dia bilang (mau tidak kamu menjadi sahabatku) itu benar, dia menganggap
ku sebagai sahabat? Ya, aku benar-benar harus mempercayainya, aku harus
mempertahankan persahabatan kami” (suara hati).
“ah,
iya terima kasih.” Jawabku.
“Dari
pada kamu galau dan memikirkan cowok seperti itu, lebih baik kita karaoke,
bagaimana?” Ajaknya.
“hanya
berdua?” tanyaku.
“ahh
tentu saja tidak, tidak seru dong! kita ajak Nara, Jason, dan Afril juga”
Baik
lah, lalu kami mengajak mereka, Jason sangat mau karaoke, Afril bilang dia
tidak bisa karna di suruh pulang cepat, dan seperti biasa Nara terpaksa ikut
karna aku memaksanya. Hahah, yasudah lah yang penting ada yang ikut. Saat aku
akan mengajak Hamsa, Lisa menahanku.
Dia
bilang “ kalau kamu mengajaknya, kamu akan menghancurkan rencana ku”
“rancana?
Maksudmu” tanyaku.
“Tentu
saja rencana untuk menghiburmu, apa lagi?” jawabnya, sambil tersenyum.
Oh
iya, aduh mengapa aku selau berprasangka buruk? Padahal aku sudah bertekad
untuk mempercayainya. Berarti kalau Hamsa tidak ikut. Ini seperti “DOUBLE DATE”
aku, Nara, Lisa, dan Jason. Bagaimana ini? Eeh, bukan deh, kan Jason apalagi Nara
cuma temanku.
Sesampainya
di tempat karaoke, bukannya bersenang-senang aku malah aneh sendiri, aku tidak
tahu apa yang harus ku lakukan. Karna ini pertama kalinya aku karaoke bersama
teman. Aku sangat canggung.
Tiba
tiba Nara mengajakku keluar. Ada apa ini? Aku jadi berpikiran yang macam-macam.
Kami
keluar dan berbincang-bincang.
Dia
bilang “kamu kenapa laila? Sepertinya kamu tidak nyaman di dalam? Ada masalah?”
“ah
tidak ada apa-apa, tumben kamu baik, biasanya kamu menyebalkan?” kataku.
“ahh.
Jangan begitu, walau pun begini kita kan teman.. kalau kamu tidak mau cerita
aku tidak memaksamu, tapi kalau kamu cerita aku akan menjadi pendegar yang
baik. Tapi aku sarankan kamu cerita, karena dengan cerita, perasaanmu akan
lebih tenang.” Jawabnya.
Ternyata
semua yang aku pikirkan tentang dia semuanya salah. Ternyata dia orang baik.
“Maaf
aku sudah berpikiran yang buruk tentang kamu, ternyata kamu orang baik, maaf
kan aku ya?” kataku.
“iya
tak apa, aku sudah biasa. Orang yang baru kenal dennganku semuanya juga begitu,
sama persis sepertimu, karna aku orangnya memang begini. Nyebelin haha J ” Katanya.
Dia
memang baik. Lalu kami sudah resmi menjadi teman, akhirnya aku menceritakan
masalahku. Dia bilang sebaiknya aku jangan selalu berburuk sangka kepada orang,
apa lagi kepada orang aku sayangi. Hamsa, padahal belum ada bukti kalu dia
selingkuh. Lisa, dia sahabatku tapi aku malah curiga kepadanya. Dia
menasihatiku. Dan nasehatnya itu telah menyadarkannku.
Setelah
itu kami kembali ke tempat karaoke, saat sampai disana suasananya seperti di padang
bunga. Jason dan Lisa senyum-senyum, dan ternyata saat kami tinggalkan mereka
berdua. Jason meminta Lisa menjadi pacarnya dan Lisa pun menerima permintaan
Jason. Aku ikut senang dengan kebahagiaan sahabatku.
Dan
aku minta maaf pada Lisa karna aku sudah curiga kepadanya.
Masalahku
dengan Lisa dan Nara berakhir dengan baik. Sekarang hanya ada satu masalah yang
tersisa, yaitu denga kekasih tercintaku Hamsa. Aku masih penasaran, siapa orang
yang bersamanya di stasiun tempohari.
Di
perjalanan pulang, di dekat stasiun kami melihat Hamsa memeluk cewek lain. Dia
tertangkap basah olehku dan oleh teman-teman. Teganya dia, mengapa dia
melakukan ini semua kepadaku. Kami mendekat, dan ternyata cewek itu adalah Afril.
Aku kecewa dengan Hamsa, dan aku tak menyangka, Afril yang lugu dan pemalu itu
ternyata seperti itu.
Aku
benar-benar dibuat kesal. Dan teman-teman yang melihat pun juga kaget. Aku akan
membereskan semua ini besok di sekolah.
Sesampainya
di sekolah teman-temanku menunggu di pintu gerbang. Mereka tau kalau aku sangat
emosi, mereka mencoba meredam emosiku.
“Laila
sabar,” kata Lisa
“Bagaimana
bisa sabar? Kemarin mereka tertangkap basah!” kataku
“Laila
kamu harus percaya kepada mereka!” kata Jason.
“Apa
lagi yang harus dipercaya? Aku percaya mereka bermesraan di belakang ku” kata
ku.
“Laila
coba kamu bicara baik-baik dengan Hamsa, tapi jangan pakai emosi” kata Nara
“Baiklah
tapi, tolong kalian tetap bersama ku L”
kataku
Dengan
serempak mereka bilang “PASTI !!”
Mereka
telah meredam emosi ku, aku menjadi lebih tenang, dan aku sudah memikirkan apa
yang harus aku katakan kepada Hamsa dan Afril.
Saat
istirahat aku langsung ke mejanya Hamsa.
Dia
tersenyum. Dia bilang “Ada apa Laila, sudah lama kita tidak bicara, aku sangat
merindukan suaramu”
“Rindu
katamu?” kataku dengan suara tinggi.
Nara
menatap ku dan menggelengkan kepalanya. Iya, aku baru ingat kalau aku harus
meredam emosiku. Baiklah aku akan mencoba.
“iya
aku juga merindukan mu. Kemarin kamu dimana setelah pulang sekolah?” tanyaku.
“Dirumah.
Ada apa?” jawabnya.
“Dirumah
saja?” tanyaku sekali lagi dengan tatapan curiga.
Lalu
dia bilang “tidak kemarin aku ke rumah sakit”
“Hah?
Kerumah sakit? Siapa yang sakit?” tanyaku.
“KYAAAAAAAAAAAA…”
suara teriakan teman sekelas.
Semua
orang di kelas kaget, ternyata Afril pingsan, dia langsung dibawa ke rumah
sakit. Setelah pulang sekolah kami langsung menjenguk Afril di rumah sakit. Dia
di rawat.
Di
ruang tunggu.
“Kemarin
aku melihatmu bersama Afril di dekat stasiun, dan aku lihat kalian sedang
berpelukan. Kamu sudah bosan dengan ku?” Ujar ku kepada Hamsa.
“Apa?
Berpelukan? Tidak ! aku dan Afril tidak berpelukan, dan aku tidak pernah bosan
dengan mu” Jawabnya dengan wajah geLisah.
“Nara,
Jason, dan Lisa juga melihat” iya kan?
Tanya ku kepada mereka.
Mereka
hanya mengangguk.
“Oh,
iya aku ingat ! kemarin aku menopang Afril yang jatuh pingsan. Di stasiun kan?
Iya aku ingat sekali. Tadi di sekolah aku bilang, aku ke rumah sakit kan? Nah,
yang sakit itu Afril.” Jawabnya.
“Memangnya
dia punya penyakit apa?” Tanya Nara.
“Dia
punya penyakit kangker stadium 4. Dan dia adalah saudaraku.” Jawabnya.
“Apa?
Kanker? Saudara?” Kami pun tertegun dengan kabar seperti itu.
“Tolong
ceritakan kepada kami” Ujarku.
Hamsa
menceritakan semuanya kepada kami.
“Satu
minggu lalu Afril menyatakan perasaannya kepadaku. Dia menceritakan tentang
penyakitnya kepada ku. Dia bilang “tolong bahagiakan aku satu minggu saja,
karena hidupku tinggal satu minggu lagi.” Tapi, sebelumnya aku menolak, karna
aku sudah mempunyai wanita yang paling aku cintai yaitu laila, tapi, saat aku
mengingat keadaan Afril yang sangat buruk, tanpa berfikir panjang aku langsung
berniat untuk membahagiakannya walaupun hanya satu minggu. Bagaimana pun dia
adalah saudara yang aku sayangi. Dan aku terpaksa mengabaikan perasaannya laila
untuk beberapa saat, tapi aku melakukan itu bukan tanpa alasan. Aku minta maaf”
Aku
menangis tanpa henti.
Lalu
aku berkata. “tidak seharusnya aku yang minta maaf, aku sudah berprasangka
buruk kepada kamu, padahal kamu adalah orang yang aku cintai. Dan aku juga
berprasangka buruk kepada Afril. Aku tidak tau bahwa keadaannya seperti itu.
Maafkan aku”
Afril
mendengar semua perkataan kami, dia keluar dari kamar rawatnya, duduk tak
berdaya di kursi roda. Dia menangis…
“Maafkan
aku, Hamsa terima kasih atas seminggu ini, kamu harus menjaga laila dengan
baik, jangan sampai dia di ambil Nara, haha” katanya dengan senyuman kecil di
bibirnya.
“Dan
laila maaf karna aku telah meminjam Hamsa tanpa memberi tau mu. Maaf..”
“Tidak,
tidak apa-apa. lebih baik kamu istirahat. Aku akan menemanimu tidur.” kataku
“Iya
kami juga akan menemanimu” Ujar semua.
“benar
tidak apa-apa?” kata Afril.
“iya
tak apa, kita kan teman” Ujar semua.
Dia
meneteskan air mata untuk ke dua kalinya, lalu aku menghapusnya.
Dan
dia berkata “Aku senang sekali punya sahabat seperti kalian, Aku tak akan
pernah menyesal dengan hidupku yang sebentar ini, karna aku punya kalian. aku
sayang kalian”
Lalu
dia memejamkan matanya. Dan disitulah saat-saat terakhir kami bersamanya. Kata
kata terakhirnya tak akan pernah bisa ku lupakan.
Hari
itu adalah hujan air mata. Dan di situlah aku meneteskan airmata terakhir ku.
Aku tak akan menangis lagi. Karna aku punya mereka.
Sekarang
dia menjadi milikku seutuhnya. Tak ada yang bisa mengambilnya dariku. Dan aku
tak akan melepaskannya untuk yang ke tiga kalinya.
Kami
menjalani hidup bersama tanpa ada tetesan air mata, dia selalu menjagaku, dia
tak pernah membiarkanky terluka. Rasa cintaku selalu bertambah setiap harinya.
Sampai aku tak dapat membendungnya.
Dan
dari sinilah aku mendapatkan banyak pelajajaran bahwa …
Kita
harus percaya bahwa walaupun masa lalu kita berada di sisi yang gelap, tapi
masa depan kita pasti akan berada di sisi yang terang.
Kepercayaan
dan kejujuran adalah pondasi dari sebuah hubungan, baik itu persahabatan
ataupun percintaan.
Dan
aku tak akan pernah menyesali hidupku karna aku punya kalian.
Sekarang
adalah saatnya bagiku untuk menyeberangi sisiyang gelap menu sisi yang terang
bersma Mereka.
Dan
dari sinilah kehidupan baru saja dimulai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar