Sabtu, 19 Mei 2012

My Long Love Story


Kehidupan Baru Saja Dimulai

Hari-hari yang sangat menyakitkan untukku sudah berakhir.. Yaa aku harap begitu. Besok adalah penerimaan murid baru di SMA S. Perkenalkan. Aku Laila 12, 5 tahun . Usiaku belum genap 13 tahun, tapi aku sudah masuk SMA. Mungkin ini anugerah dari tuhan yang ia berikan kepadaku.
Tapi karena usiaku yang terlalu muda dari teman-temanku. Teman-teman SMP ku sering menindasku. Mereka menganggap remeh diri ku. Tapi hanya ada satu orang yang tidak menganggap remeh diriku yaitu, dia. Namanya Hamsa dia 2 tahun lebih tua dariku..
Dia teman sekelasku saat aku SMP. Karnanya aku yang pemalu, tidak percaya diri, dan pelupa ini di pilih oleh guru untuk ikut Lomba Cerdas Cermat Tingkat Provinsi. Dia yang merekomendasikanku untuk ikut lomba ini. Aku senang, tapi aku bingung. Kenapa dia pilih aku? Aku sempat menolak untuk tidak mengikuti lomba itu. Karena masih banyak murid yang lebih percaya diri daripada aku.
Tapi dia menyakinkanku “kamu bisa, ayo kita berusaha bersama,”
Tapi aku bilang “aku tak mungkin bisa.”
Lalu dia bilang “kamu ini pintar laila. Kamu hanya kurang percaya diri karena kamu selalu saja di tindas dan diremehkan oleh mereka yang iri kepadamu. Dan aku juga tdak akan ikut kalau kamu tidak ikut.”
“Iri? Tidak ikut? Kenapa?” tanyaku.
“iya, mereka iri kepadamu. Dengan usiamu yang masih muda, kamu bisa mengimbangi mereka. Iya. Aku tidak akan iku lomba itu karena aku terlalu sering ikut lomba yang seperti itu. Aku tidak ikutpu sekolah tidak rugi. Toh, piala ku sudah terpampang banyak sekali di kantor kepala sekolah. Sedangkan kamu? Kamu punya potensi yang besar laila.” Jawabnya.
Dengan kata-kataya itu, dia membangkitkan semangat, motivasi, dan kepercayaan diriku. Aku sudah bertekad untuk membuktika kepada mereka bahwa aku bisa.
Pertama kalinya ada orang yang peduli dan memperhatikanku. Selama tiga tahun aku melewati masa-masa SMP ku dialah orang pertama yang mau menjadi temanku.
Akhirnya aku mau ikut loma itu. Dia sangat senang sekali. Dia selalu menemaniku belajar. Setiap pulang sekolah dia selalu ke rumahku untuk belajar bersama. Aku selalu merasa ingin di dekatnya. Kami Pulang pergi bersama, makan bersama, samai-sampai dia pindah tempat duduk karena aku duduk sendiri.
Hari lomba pun sudah dekat. Akhirnya aku bisa, dan percaya diri bahwa aku akan menang. Ini semua karena dia. Selama kebersamaan kami itu, aku baru sadar bahwa aku jatuh cinta kepadanya. Aku berniat akan menyatakan perasaanku setelah aku menang lomba itu.
Tapi. Sebelum lomba itu dimulai dia membawa ku ke belakang gedung. Dia bilang “maaf”.
Aku bingung! Apa maksud dari kata-katanya tersebut? Padahal aku belum mengatakan apa-apa. Setelah mengatakan itu. Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Ku kejar dia, ku pegang tangannya, dan kulihat wajahnya.   Tetesan air mata indahnya menetes di tanganku. Ku husap air matanya, tapi ia menepis tangan ku.
Dia bilang “TERIMA KASIH, AKU BISA SENDIRI!” dengan nada tinggi. Dia membentakku. Sebelumnya dia belum pernah begitu kepadaku. “mengapa kamu berkata seperti itu?” tanyaku.
(Teenngg, Teenngg, Teenngg) Bel sudah berbunyi. Ternyata lomba sudah di mulai. Padahal aku belum sempat mendengar alasannya.
Karena dia bilang seperti itu, pelajaran yang aku pelajari sudah hilang entah kemana, hanya ada dia di pikiranku.
 Akhirnya aku kalah dan dia menang. Dan niatku untuk menyatakan perasaanku padanya, sirnahlah sudah. Padahal kita belajar bersama. Tapi hasilnya malah sangat berbeda. Hanya karena masalah seperti itu aku langsung lupa apa yang aku pelajari.
Kalau aku menyatakan perasaanku sekarang, aku merasa tidak pantas mengatakanya karena aku tidak memenangkan lomba itu. Aku merasa bahwa, aku tidak pantas untuknya. Dan lombanya usai begitu saja.
Tapi saat dirumah, aku membulatkan tekatku lagi “aku akan menyatakan perasaanku saat pulang sekolah.”
          Ternyata saat di sekolah. Wali kelas datang dan langsung berkata “Anak-anak sekalian. Teman kalian, Hamsa. Dia sudah keluar dari sekolah, orang tuanya bercerai. Dia ikut ke Sumatera bersama ayahnya”. saat mendengar guru berkata seperti itu air mataku menetes, dan sudah tak ada yang bisa menghapusnya, karena yang bisa menghapus airmataku hanya dia.
Akhirnya aku kembali ke kehidupan ku yang suram. Tanpanya aku tak bisa berbuat apa-apa saat mereka menindasku. Tak ada yang membelaku, yang bisa kulakukan hanya pasarah. Aku mau melawan, tapi taka da yang bisa k lakukan.

 Ya… Hidupku di SMP yang gelap dan suram akan berakhir besok. Selamat tinggal kegelapan selamat tinggal kenangan dan selamat tinggal cinta yang tak terbalas.
Hari ini aku resmi menjadi siswi SMA S. Semoga aku bisa menyesuaikan diri dengan orang-oran disini. Dan yang pasti aku tak mau kehidupanku di SMP terulang lagi. Aku ingin punya banyak teman. Tapi, walaupun aku hanya punya satu teman, ku harap dia aka seperti Hamsa. Hamsa adalah satu-satunya temanku. Temanku yang sangat aku cintai.
Sejak saat itu, aku tak penah bisa melupakannya. Padahal aku tau bahwa aku tak akan penah bisa bertemu lagi dengannya.
Upacara pun dimulai. Banyak sekali siswa dan siswi yang berkumpul di aula. Ini sangat menyesakkan. Aku sangat ingin meyambut kehidupanku yang baru. Tapi aku takut kehilangan kenangan indahku bersamanya. Dan aku memutuskan untuk tidak ikut upacara penerimaa murid baru.
Aku berpikir bahwa, aku tidak boleh terus seperti ini. Aku harus melupakannya. Aku lari mengelilingi gedung sekolah. Dan aku bertemu dengan penjaga sekolah. Dia mencoba untuk enghentikan langkahku. Tapi sayangnya dia tidak behasil. Karena aku sudah membulatkan tekad ku. AKU HARUS MELUPAKANYA!!
Akhirnya aku sampai di atap sekolah. Sekolah ini memang luas sekali. Aku teriak pun mungkin tidak ada yang bisa dengarnya.
Disitu dengan puasnya aku berteriak dan bekata “HAMSAAA.. AKU MENCINTAIMU.. AKU INGIN MELUPAKA MU. TAPI KENAPA KAMU SELALU ADA DIPIKIRANKU. HUJAN, BADAI, ANGIN TOPAN, KULEWATKAN SENDIRI TANPAMU… KENAPA KAU MENINGGALKA KU TANPA ADA SEPATAH KATA YANG TERUCAP DARI BIBIRMU.. HHHHHUUUUUAAAAA!!!!!!!!”
Aku sangat lelah, tapi aku puas. Air mataku mengalir deras. Aku yakin sekali aku bisa melupakannya.
“Kenapa kamu begitu inginnya melupakanku?” suara lembut yang semakin mendekatiku.
“Selama ini aku tak pernah berpikir bahwa aku akan melupakanmu.” Suara ini sangat tidak asing untukku.
“Aku selalu ingin kembali dan cepat-cepat menjemputmu.” Semakin dekat.
Tiba-tiba orang itu memelukku dan menghentikan derasnya air mataku. Pelukanya membuatku sangat nyaman. Aku sangat kenal dengan suara lembut itu.
“Maafkan aku. Karenaku kamu telah banyak mengeluarka air matamu. Akan ku ganti setiap tetes air matamu dengan kasih saying sang melimpah. Aku cinta kamu, Laila..”
Aku menolehkan wajahku ke hdapannya. Ya, ternyata memang dia. Orang yang sangat ingin aku lupakan ternyata kembali dihidupku. Senang, sedih, kesal, kecewa, mereka semua sedang menari-nari dihatiku.
 “Hamsa, kamu jahat!! Kamu pergi begitu saja tanpa pamit.AKU BENCI KAMU!!” sambil menangis.
“Maaf, aku pergi tanpa pamit, datang pun aku tak bilag-bilang. Iya laia, aku juga sangat mencintaimu.” sahutnya.
“siapa yang cinta kamu? Aku bilang kan AKU BENCI KAMU”.
“Iya aku tau, kalau kau sangat mencintaiku.”
“Kamu ini!!!!!” dngan nada tinggi.
Ku ayunkan tanganku beriat untuk memukulnya. Tapi dia menghentkannya. Dia menyandarkanku ke dadanya. Hangat, dan nyaman. Itulah yang aku rasakan.
“Maaf kan aku.” Bisiknya.
Dan ternyata, disaat yang romantis seperti itu. Penjaga sekolah datang ke atap. Dia menemunku. Dia merusak suasana dengan memarahi kami Kami dimarahi habis habisan.
Saat turun ke bawah. Penjaga sekolah di depan dan kami mengikutinya. Tapi Hamsa tak melepaskan tanganku. Genggamannya sangat kuat, tangannya ternyata besar. Terlihat sekali perbedaa diantara kami. Dia laki-laki dan aku perempuan. Dan yang paling mengesankan adalah, ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.
Setelah di marahi. Kami langsung melihat ke mading pengumuman. Ternyata, kami sekelas lagi. Dia tersenyum, senyumnya membuat hatiku terasa direbus (Nysss).
Kami langsung bergegas ke kelas. Kami tidak duduk bersebelahan. Mudah mudahan dikelas ini aku mendapatkan banyak teman.
Saat namaku di panggil aku merasa kehidupan di SMP ku akan terulang kembali. Karena, saat namaku di panggil semua mata tertuju kepadaku. Tapi firasatku salah, teman-teman yang lain malah memujiku, mereka bilang namaku indah. Dan aku keren dengan usiaku yang semuda ini aku bisa duduk di kelas yang sama dengan mereka. Jelas sekali ini sangat berbeda dengan kehidupan ku di SMP.
Aku duduk dan langsung berkenanalan dengan teman sebelahku. Dan sekarang aku baru punya 4 teman. Orang yang duduk di depanku namanya Nara, dia memakai kacamata, sepertnya dia orang yang misterius. Di sebelah kiriku namanya Lisa, dia bilang, “kamu mau jadi sahabatku? Aku akan selalu ada untukmu” tentunya aku mau selkali. Disebelah kananku namanya Jason, ternyata dia itu teman SMP ku, tepatnya temannya Hamsa. Di belakangku namanya  Afril, dia pendiam dan pemalu, saat melihat dia aku seperti melihat diriku yang dulu.
Nahh.. Dari sinilah, kehidupan SMA ku dimulai..

Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Sekolah dimana aku akan mengubah hidupku dari kegelapan menjadi cahaya. Cahaya yang bukan hanya untukku, tapi cahaya untuk orang-orang yang menyayangi ku.
Aku sedang siap-siap untuk berangkat sekolah. Aku tak tau harus bergaya seperti apa. Apa aku harus pakai rok pendek di atas dengkul? Atau pas di dengkul? Atau pakai rok yang panjang? Ahh lebih baik aku pakai yang panjang saja, agar kesannya lebih baik dimata orang.
Wahh ternyata Hamsa menungguku di depan rumah, ini seperti pemandangan yang indah. Dia sedang duduk  di bangku depan rumah ku. Seperti saat dia menungguku saat SMP dulu.
Aku bilang “wahh.. sudah lama sekali aku tak melihat pemandangan  seindah ini.” Dia tertawa dan bilang “ada-ada saja!!” sambil mengusap kepalaku.
Aku bertanya kepada diriku sendiri “Oh tidak, kenapa dia sangat baik kepadaku? Aku takut kejadian waktu SMP dulu terulang lagi. Kalau memeng dia tidak menyukaiku dan menganggapku biasa-biasa saja. Sebaiknya dia jangan berbuat bai kepadaku.”
Tuh kan, lagi-lagi Hamsa menggenggam tanganku. Aku takut aku salah paham. Ditengah jalan yang sepi dia terus menggandengku. Ku akui memang tangannya sangat hangat. Tapi aku tidak suka dengan perasaan yang selalu mengusikku.
“Hamsa, memangnya kita sudah pacaran?” tanyaku.
Dia malah tertawa terbahak-bahak.”HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!”
“Aku bingung, memangnya ada yang lucu, ya?” sambil mengusap-usap kepala.
Dia berhenti tertawa “iya kita sudah pacaran.”
Tapi aku malah tambah bingung “memangnya kamu pernah memintaku untuk menjadi pacarmu?” tiba-tiba dia berhenti berjalan.
Dia bertanya “memangnya kalau pacaran harus diminta dulu ya?” sambil tertawa.
“tentu saja, kan itu sebagai kepastian suatu hubungan” jawabku.
Dia berhenti tertawa, lalu dia malah meninggalkanku sendirian.
 “YASUDAH KALAU BEGITU AKU BERANGKAT SEKOLAH SENDIRI!!!” teriakku.
Aku sangat kesal, dia malah mempermainkan aku. Aku menendang apa saja yang ada di depanku. “AUU sakit Laila” dia datang entah dari mana.
”untuk apa kamu disini? Tadi kamu malah meninnggalkannku sendirian! huh” dengan wajah suram.
Sambil tersenyum dengan pakaian yang berantakan dia mengenggam ke dua tanganku dan berkata “Maafkan aku, sebagai gantinya terimalah bunga ini, dan jadilah pacarku”. Aku senang luar biasa. Dia samapai melewati semak-semak dan lumpur untuk mengambil bunga itu. Tentu saja aku langsung menerima permintaannya. Dan disitulah aku mendapatkan ciuman pertamaku.
Saat aku melihat jam, ternyata kami terlambat. Kami tak diizinkan masuk oleh penjaga sekolah. Dengan tongkat dan tidak ketinggalan kepala botaknya itu, dia bilang “KALIAN LAGI!!!?, HUH! Dasar anak muda”.
Bukannya takut, kami malah tertawa terbahak-bahak. Sang penjaga sekolah pun tambah marah. “DIAM!!!!” teriaknya .. “UPPSS!! ^_^, maaf pak, hehe” berbisik kecil.
Ini adalah hari pertama aku dan dia menjalani hidup sebagai sepasang kekasih. Masa mau dirusak terus sama si Kepala Botak sih?
Kami tak tahan lagi dengan omelan si Kepala Botak itu. Akhirnya kami berhasil melarikan diri darinya. Kami kabur lewat semak-semak di belakang pos penjaga.
Sesampainya di kelas, kami malah di tertawakan. Ternyata wajah kami penuh lumpur dan seragam kami pun kotor. Huh.. Walaupun malu, tapi hari ini adalah hari yang paling menyenangkan yang pernah aku alami.

Pelajaran pun dimulai. Lisa dan aku diminta oleh guru untuk mengambil bahan pelajaran diruang guru. Tapi disana aku melihat Nara sedang dimarahi. Apa yang sedang terjadi? Aku khawatir. Jadi aku menunggunya. Aku meminta Lisa untuk pergi duluan ke kelas. Aku memintanya untuk bilanng ke guru kalau aku ke toilet dulu.
Aku menunggu Nara di depan pintu ruang guru. Nara keluar, dan aku ingin tau apa yang terjadi.
“Nara, apa yang telah terjadi?” tanyaku.
“Oh, Laila. Ku kira siapa. Tidak ada yang terjadi. Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” jawabnya.
Oh iya, aduh apa yang harus ku katakan padanya? Masa, aku bilang aku khawatir si? Padahal kita baru kenal. Nanti aku malah di bilang sok akrab dan KEPO( mau tau aja: bahasa gaul) lagi. Ah, yasudah lah memang aku khawatir.
“Laila mengapa kamu diam saja? Apa yang kamu laku kan di sini?” tanyanya dengan tatapan curiga.
”Oh itu, Mmm aku sedaang…. Mengantar Lisa ke toilet”  jawabku.
Aku malah berbohong padanya padahal kami baru kenal. Duh bodohnya aku.
“Lisa? Ngomong-ngomong dimana dia? Aku tak melihatnya. Oh iya.. Toilet? Ini kan ruang guru.” tanyanya.
Dengan pertanyaannya yang seperti itu, dia memojokkanku. Yasudah lah, aku sudah terpojok, lebih baik aku bilng yang sejujurnya.
 “Aku khawatir padamu, tadi kulihat kau dimarahi oleh guru, dan maaf aku tadi berbohong.”
Kupejamkan mataku. Dan kubuka satu mataku sambil menunggu jawabanya.
“Hah? Siapa yang dimarahi? Tadi aku hanya berdiskusi sedikit dengan guru. Sok tau sekali kamu! Padahal kita baru kenal, dan kamu juga berbohong padaku. Memangnya untuk apa kau khawatir. Dasar sok kenal!”
Dia berkata seperti itu dengan wajah yang datar. Benar sekali pikiranku tadi. Aku pasti dibilang sok akrab.
Aaarrgghh..Apa yang sedanng kulakukan? Huh!! Ternyata dia orangnya dingin sekali. Padahal aku kan hanya khawatir. Hmm wajahnya, apa lagi kaca matanya itu, ngajakin berantem banget. “yaudah si. Biasa aja, kamu juga baru kenal tapi kok kasar banget? Padahal aku kan cuma khawatir. Maaf ya kalu aku sok kenal. Ck.!!”
Setelah mengatakan itu aku langsung lari ke kelas. Aku kesal sekali, SUPER DUPER KESAL. “Heii kamu! jangan berlari di koridor” teriak si Kepala Botak.”
“maaf Pak..” jawabku.
Sampainya dikelas aku langsung duduk.
“Lai, kenapa wajahmu? Lecek amat.” Tegur Lisa
“Aah.. Tak apa.” jawabku.
Akhirnya Nara datang. Dia dimarahi guru karna telat masuk kelas. Dia duduk di bangkunya. Dan lagi-lgi wajahnya datar. Kaca matanya itu yang sangat membuatku kesal.
“Sok kalem, padahal tengil gitu.!!” Kataku dengan suara pelan.
Tiba-tiba dia menengok kebelakang.
“Apa katamu?” katanya sambil menurunkan kacamatanya.
“Nggak kenapa-kenapa. Lagian siapa yang ngomong sama kamu?” jawabku sambil menutup wajahku dengan buku.
“OH” katanya, lalu dia memakai kaca matanya lagi.
Idiihh sok banget keren.!! Aku sudah bicara panjang lebar (yaaa.. nggak panjang-panjang juga) dia cuma bilang “OH”.. Iich ngeselin banget tuh anak.
“Teng, Teng,Teng,Teng… ”suara bel. Akhirnya istirahat.
“huh dimana si kacamata itu?” sambil tengok ke  sekitarku. Aku membawakan bekal untuk Hamsa. Kami makan bersama di atap sekolah. Kami makan, ngobrol, dan tertawa.
Lalu tiba-iba ada suara (Ngh)  “Hamsa.. suara apa itu?” tanyaku, sambil besembunyi di belakang punggungnya “Aku tidak tau” jawabnya. lalu kami mencari sumber suara tersebut. Ternyata ada orang yang sedang tidur.
“HAH? Ternyata kamu.. woy Nara bangun!” teriakku sambil membangunkannya.
“Ngh” desahnya.
Ada apa ini? Hatiku..
“Heii apa-apaan desahanmu itu? Menjijikan sekali!” kataku sambil memegang dada.
”Apaan si? Berisik banget!! Nggak liat orang lagi tidur ya?” katanya sambil membuka kacamatanya. Lalu dia mengusap matanya.
“Huh, apa-apaan ini, hati ku berdebar” (suara hati).
Lalu ku lihat wajah Hamsa.  Wajahnya ceberut lalu dia bilang “Kalian berdua arab sekali ya? Aku seperti pengganggu disini.”
“Hamsa, Hamsa..” panggilku.
Apa apaan situasi ini? Hamsa melihatku dengan wajah cemberut, Nara melihatku dengan wajah yang bingung. Aku tak pernah berada di situasi seperti ini. Ini aneh sekali. Lalu Hamsa pergi..
“Aduh.. gimana nih? Ini semua gara-gara kamu, Kacamata JELEK !”  tuduhku sebagai pelarian.
“Apaan sih? Bego!!” Dia mencelaku sambil memakai kacamata.
“Hah? Bego? Kamu tuh yang bego. Kacamata di lepas, dipakai, dilepas, dipakai. Ck!.” kubalas celaannya.
” Bodo ah! Terserah kamu aja, aku tidur lagi” jawabnya, lalu dia tidur lagi.
Tak peduli dengan anak yang satu itu. Ku kejar Hamsa.  Tapi aku tidak menemukan dia. Aku malah bertemu si Kepala Botak lagi. Dia marahiku lagi.
“Berisik!!.. Sudahh lah pak, bukan sekarang saatnya. Bapak mengganggu saja.” Bentakku.
Dia malah tambah marah. Aku di kejar sampai belakang gedug sekolah. Akhirnya aku bisa sembunyi dari si pengganggu itu.
Ternyata Hamsa ada di belakang sekolah. Aku beruntung sekali karena dikejar si Kepala Botak itu tanpa sengaa aku menemukannya. Tapi.. Apa yang sedang dia lakukan? Dia sedang bersama siapa? Siapa itu? Lisa? Apa ang sedang mereka lakukan? Mengapa mereka hanya berdua? Dan mengapa tadi Hamsa pergi? Ada apa ini? Mengapa dadaku sakit sekali? Tidak, tidak.. aku harus percaya pada Hamsa. Aku juga harus percaya pada Lisa, karna dia adalah sahabatku. Yaa benar, aku harus percaya..
(Tes . . Tes . .Tes . .) mengapa aku tidak bisa menahan air mataku?

“Teng, teng, teng” bel masuk. Saat aku masuk kelas, aku sudah melupakan apa yang tadi aku rasakan pada Nara. Dan sekarang, aku akan memastian apa yang terjadi antara Hamsa dan Lisa.
“Lisaaa..?” paggilku.
“Ya?” jawabnya.
“Ah tidak apa-apa”. Aku tidak tau apa yang harus aku tanyakan adanya. Aku takut dia marah. Ya, aku akan coba tanya pada Hamsa.
“Teng,teng,teng” bel pulang. Kurasa Hamsa tidak menungguku. Yahh, hujan deras. Aku tak bawa payung. Aku jadi teringat kejadian tadi siang.
Aku menangis. Aku jalan menyusuri jalanan yang basah. Dan udara yang dingin hingga aku tak bisa bernafas. Air mata, air hujan, aku sudah tak bisa membedakannya. Mereka menetes di pipiku.
Aku tak sanggup lagi untuk berjalan. Aku duduk di pinggir jalan sambil berkata “Aku tak mau kehilangannya, aku tak mau melepaskannnya, aku tak akan membiarkannya pergi lagi, tapi aku tak tau bagaimana caranya… Hamsa aku sayang kamu. Aku tak mau kita berakhir sampai disini, jangan tinggalkan aku.”
Tiba- tiba hujan berhenti. Ah tidak bukan hujang yang berhenti tapii…
“siapa yang akan meninggalkanmu? Aku sudah janji kepadamu aku tak akan meninggalkanmu sendirian apapun yang terjadi” katanya.
Ternyata ini Hamsa.
“kenapa kamu tidak menungguku?”tanyaku
“tadi aku menunggumu di dekat penitipan barang, tapi kamu malah lewat depan dan pulang duluan. Kamu kan nggak bawa payung. Aku khawatir nanti kamu sakit. Jadi aku menyusulmu. Dan ternyata kamu sudah basah kuyup seperti ini. Daann, maaf tadi aku meninggalkanmu di atap, karna aku tak tahan melihat kamu dan Nara akrab sekali. Maafkan aku.” jelasnya.
“Ya.” Aku tak tau apa yang harus aku katakan.
Aku senang, sedih, sekaligus kecewa dengan diriku sendiri. Mengapa aku tidak percaya pada Hamsa? Padahal dia baik sekali padaku.
“Oh iya, tadi kamu bilang kamu tak tahan melihatku dengan Nara? Kamu cemburu ya..? ” tanyaku sambil menoel-noel tanganya.
Dengan wajah yang merah padam dia bilang “Tidak, sapa yang cemburu?”
“ahh, sudah lah jangan Ja Im  gitu, aku tau kamu cemburu” kataku. Dia terus mengelak dan bilang “Tidak!” aku pun terus berusaha agar dia mengaku.
Akhirnnya dia menyerah. Dan berkata “Iya, aku cemburu. Uchh. ini memalukan sekali” sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aduh. imut sekali aku tak tahan melihatnya. Kubuka kedua tangannya lalu ku bilang “BAAA…? Hehe.” Dia tersenyum, dan seperti biasa senyumannya itu membuatku meleleh.
Hujan pun berhenti. Dia mengantarku sampai depan rumah. Padahal rumah kami arahnya berlawanan. Hari ini aku senang sekali. Saat aku akan tidur aku baru teringat bahwa masih ada satu masalah yang masih terganjal di dalam hati ku. Hamsa dan Lisa. Ya, aku lupa tentang masalah yang satu ini. Keapa aku tidak tanya tadi? Dasar pikun.
Tapi, keesokan harinya aku masih belum berani untuk memastikanya.

Satu minggu pun berlalu sejak kejadian itu.
Hamsa tak pernah menjeputku lagi. Padahal sebelumnya aku dan dia kan sudah baikan. Akhirnya aku berangkat sekolah sendiri. Sesampainya aku di stasiun, aku seperti melihat Hamsa. Dia bersama cewek lain lagi. Itu bukan Lisa.. Siapa ya?
Aku sudah tiba di sekolah, aku masuk kelas, dan seperti biasa Hamsa menegurku. Seperti tak ada yang terjadi. Aku ingin bertanya, tapi aku takut, aku takut dia berbohong padaku, dan walaupun dia jujur, aku takut menerima kenyataan.
Aku ingin berbagi beban pada seseorang, biasanya aku cerita kepada Lisa. Yup aku akan cerita kepadanya.
“Liss.. aku mau curhat. Boleh nggak?”
“Cerita tentang apa?” sahutnya.
“Begini, sudah 1 minggu ini Hamsa tidak menjemput ku, kami pun jarang berbicara, apa lagi aku sering melihat dia bersama cewek lain” kataku.
Upps, aku lupa kalau ini semua juga ada hubungannya dengan Lisa. Aduh Pikun banget deh L.
“hah? Dia bersama cewek lain? Benarkah?” tegasnya.
“ah, iya !” jawabku sambill mengusap kepala. Walau pun aku agak sedikit bingung, tapi sepertinya dia memang baik. Aku harus percaya padanya.
“oh, kasian sekali sahabatku ini, yang sabar ya.. L” katanya.
“Hah? Sahabat? Saat dia bilang (mau tidak kamu menjadi sahabatku) itu benar, dia menganggap ku sebagai sahabat? Ya, aku benar-benar harus mempercayainya, aku harus mempertahankan persahabatan kami” (suara hati).
“ah, iya terima kasih.” Jawabku.
“Dari pada kamu galau dan memikirkan cowok seperti itu, lebih baik kita karaoke, bagaimana?” Ajaknya.
“hanya berdua?” tanyaku.
“ahh tentu saja tidak, tidak seru dong! kita ajak Nara, Jason, dan Afril juga”
Baik lah, lalu kami mengajak mereka, Jason sangat mau karaoke, Afril bilang dia tidak bisa karna di suruh pulang cepat, dan seperti biasa Nara terpaksa ikut karna aku memaksanya. Hahah, yasudah lah yang penting ada yang ikut. Saat aku akan mengajak Hamsa, Lisa menahanku.
Dia bilang “ kalau kamu mengajaknya, kamu akan menghancurkan rencana ku”
“rancana? Maksudmu” tanyaku.
“Tentu saja rencana untuk menghiburmu, apa lagi?” jawabnya, sambil tersenyum.
Oh iya, aduh mengapa aku selau berprasangka buruk? Padahal aku sudah bertekad untuk mempercayainya. Berarti kalau Hamsa tidak ikut. Ini seperti “DOUBLE DATE” aku, Nara, Lisa, dan Jason. Bagaimana ini? Eeh, bukan deh, kan Jason apalagi Nara cuma temanku.
Sesampainya di tempat karaoke, bukannya bersenang-senang aku malah aneh sendiri, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Karna ini pertama kalinya aku karaoke bersama teman. Aku sangat canggung.
Tiba tiba Nara mengajakku keluar. Ada apa ini? Aku jadi berpikiran yang macam-macam.
Kami keluar dan berbincang-bincang.
Dia bilang “kamu kenapa laila? Sepertinya kamu tidak nyaman di dalam? Ada masalah?”
“ah tidak ada apa-apa, tumben kamu baik, biasanya kamu menyebalkan?” kataku.
“ahh. Jangan begitu, walau pun begini kita kan teman.. kalau kamu tidak mau cerita aku tidak memaksamu, tapi kalau kamu cerita aku akan menjadi pendegar yang baik. Tapi aku sarankan kamu cerita, karena dengan cerita, perasaanmu akan lebih tenang.” Jawabnya.
Ternyata semua yang aku pikirkan tentang dia semuanya salah. Ternyata dia orang baik.
“Maaf aku sudah berpikiran yang buruk tentang kamu, ternyata kamu orang baik, maaf kan aku ya?” kataku.
“iya tak apa, aku sudah biasa. Orang yang baru kenal dennganku semuanya juga begitu, sama persis sepertimu, karna aku orangnya memang begini. Nyebelin haha J ” Katanya.
Dia memang baik. Lalu kami sudah resmi menjadi teman, akhirnya aku menceritakan masalahku. Dia bilang sebaiknya aku jangan selalu berburuk sangka kepada orang, apa lagi kepada orang aku sayangi. Hamsa, padahal belum ada bukti kalu dia selingkuh. Lisa, dia sahabatku tapi aku malah curiga kepadanya. Dia menasihatiku. Dan nasehatnya itu telah menyadarkannku.
Setelah itu kami kembali ke tempat karaoke, saat sampai disana suasananya seperti di padang bunga. Jason dan Lisa senyum-senyum, dan ternyata saat kami tinggalkan mereka berdua. Jason meminta Lisa menjadi pacarnya dan Lisa pun menerima permintaan Jason. Aku ikut senang dengan kebahagiaan sahabatku.
Dan aku minta maaf pada Lisa karna aku sudah curiga kepadanya.
Masalahku dengan Lisa dan Nara berakhir dengan baik. Sekarang hanya ada satu masalah yang tersisa, yaitu denga kekasih tercintaku Hamsa. Aku masih penasaran, siapa orang yang bersamanya di stasiun tempohari.
Di perjalanan pulang, di dekat stasiun kami melihat Hamsa memeluk cewek lain. Dia tertangkap basah olehku dan oleh teman-teman. Teganya dia, mengapa dia melakukan ini semua kepadaku. Kami mendekat, dan ternyata cewek itu adalah Afril. Aku kecewa dengan Hamsa, dan aku tak menyangka, Afril yang lugu dan pemalu itu ternyata seperti itu.
Aku benar-benar dibuat kesal. Dan teman-teman yang melihat pun juga kaget. Aku akan membereskan semua ini besok di sekolah.
Sesampainya di sekolah teman-temanku menunggu di pintu gerbang. Mereka tau kalau aku sangat emosi, mereka mencoba meredam emosiku.
“Laila sabar,” kata Lisa
“Bagaimana bisa sabar? Kemarin mereka tertangkap basah!” kataku
“Laila kamu harus percaya kepada mereka!” kata Jason.
“Apa lagi yang harus dipercaya? Aku percaya mereka bermesraan di belakang ku” kata ku.
“Laila coba kamu bicara baik-baik dengan Hamsa, tapi jangan pakai emosi” kata Nara
“Baiklah tapi, tolong kalian tetap bersama ku L” kataku
Dengan serempak mereka bilang “PASTI !!”
Mereka telah meredam emosi ku, aku menjadi lebih tenang, dan aku sudah memikirkan apa yang harus aku katakan kepada Hamsa dan Afril.
Saat istirahat aku langsung ke mejanya Hamsa.
Dia tersenyum. Dia bilang “Ada apa Laila, sudah lama kita tidak bicara, aku sangat merindukan suaramu”
“Rindu katamu?” kataku dengan suara tinggi.
Nara menatap ku dan menggelengkan kepalanya. Iya, aku baru ingat kalau aku harus meredam emosiku. Baiklah aku akan mencoba.
“iya aku juga merindukan mu. Kemarin kamu dimana setelah pulang sekolah?” tanyaku.
“Dirumah. Ada apa?” jawabnya.
“Dirumah saja?” tanyaku sekali lagi dengan tatapan curiga.
Lalu dia bilang “tidak kemarin aku ke rumah sakit”
“Hah? Kerumah sakit? Siapa yang sakit?” tanyaku.
“KYAAAAAAAAAAAA…” suara teriakan teman sekelas.
Semua orang di kelas kaget, ternyata Afril pingsan, dia langsung dibawa ke rumah sakit. Setelah pulang sekolah kami langsung menjenguk Afril di rumah sakit. Dia di rawat.
Di ruang tunggu.
“Kemarin aku melihatmu bersama Afril di dekat stasiun, dan aku lihat kalian sedang berpelukan. Kamu sudah bosan dengan ku?” Ujar ku kepada Hamsa.
“Apa? Berpelukan? Tidak ! aku dan Afril tidak berpelukan, dan aku tidak pernah bosan dengan mu” Jawabnya dengan wajah geLisah.
“Nara, Jason, dan Lisa juga melihat”  iya kan? Tanya ku kepada mereka.
Mereka hanya mengangguk.
“Oh, iya aku ingat ! kemarin aku menopang Afril yang jatuh pingsan. Di stasiun kan? Iya aku ingat sekali. Tadi di sekolah aku bilang, aku ke rumah sakit kan? Nah, yang sakit itu Afril.” Jawabnya.
“Memangnya dia punya penyakit apa?” Tanya Nara.
“Dia punya penyakit kangker stadium 4. Dan dia adalah saudaraku.” Jawabnya.
“Apa? Kanker? Saudara?” Kami pun tertegun dengan kabar seperti itu.
“Tolong ceritakan kepada kami” Ujarku.
Hamsa menceritakan semuanya kepada kami.
“Satu minggu lalu Afril menyatakan perasaannya kepadaku. Dia menceritakan tentang penyakitnya kepada ku. Dia bilang “tolong bahagiakan aku satu minggu saja, karena hidupku tinggal satu minggu lagi.” Tapi, sebelumnya aku menolak, karna aku sudah mempunyai wanita yang paling aku cintai yaitu laila, tapi, saat aku mengingat keadaan Afril yang sangat buruk, tanpa berfikir panjang aku langsung berniat untuk membahagiakannya walaupun hanya satu minggu. Bagaimana pun dia adalah saudara yang aku sayangi. Dan aku terpaksa mengabaikan perasaannya laila untuk beberapa saat, tapi aku melakukan itu bukan tanpa alasan. Aku minta maaf”
Aku menangis tanpa henti.
Lalu aku berkata. “tidak seharusnya aku yang minta maaf, aku sudah berprasangka buruk kepada kamu, padahal kamu adalah orang yang aku cintai. Dan aku juga berprasangka buruk kepada Afril. Aku tidak tau bahwa keadaannya seperti itu. Maafkan aku”
Afril mendengar semua perkataan kami, dia keluar dari kamar rawatnya, duduk tak berdaya di kursi roda. Dia menangis…
“Maafkan aku, Hamsa terima kasih atas seminggu ini, kamu harus menjaga laila dengan baik, jangan sampai dia di ambil Nara, haha” katanya dengan senyuman kecil di bibirnya.
“Dan laila maaf karna aku telah meminjam Hamsa tanpa memberi tau mu. Maaf..”
“Tidak, tidak apa-apa. lebih baik kamu istirahat. Aku akan menemanimu tidur.” kataku
“Iya kami juga akan menemanimu” Ujar semua.
“benar tidak apa-apa?” kata Afril.
“iya tak apa, kita kan teman” Ujar semua.
Dia meneteskan air mata untuk ke dua kalinya, lalu aku menghapusnya.
Dan dia berkata “Aku senang sekali punya sahabat seperti kalian, Aku tak akan pernah menyesal dengan hidupku yang sebentar ini, karna aku punya kalian. aku sayang kalian”
Lalu dia memejamkan matanya. Dan disitulah saat-saat terakhir kami bersamanya. Kata kata terakhirnya tak akan pernah bisa ku lupakan.
Hari itu adalah hujan air mata. Dan di situlah aku meneteskan airmata terakhir ku. Aku tak akan menangis lagi. Karna aku punya mereka.
Sekarang dia menjadi milikku seutuhnya. Tak ada yang bisa mengambilnya dariku. Dan aku tak akan melepaskannya untuk yang ke tiga kalinya.
Kami menjalani hidup bersama tanpa ada tetesan air mata, dia selalu menjagaku, dia tak pernah membiarkanky terluka. Rasa cintaku selalu bertambah setiap harinya. Sampai aku tak dapat membendungnya.
Dan dari sinilah aku mendapatkan banyak pelajajaran bahwa …
Kita harus percaya bahwa walaupun masa lalu kita berada di sisi yang gelap, tapi masa depan kita pasti akan berada di sisi yang terang.
Kepercayaan dan kejujuran adalah pondasi dari sebuah hubungan, baik itu persahabatan ataupun percintaan.
Dan aku tak akan pernah menyesali hidupku karna aku punya kalian.
Sekarang adalah saatnya bagiku untuk menyeberangi sisiyang gelap menu sisi yang terang bersma Mereka.
Dan dari sinilah kehidupan baru saja dimulai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar